LABUHA – Selain meningkatnya kasus HIV/AIDS, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) juga masih menghadapi persoalan kesehatan menular lainnya, yakni penyakit kusta atau lepra (Morbus Hansen).
Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan Halsel mencatat 158 kasus kusta yang tersebar di hampir seluruh kecamatan.
Kepala Dinas Kesehatan Halsel, Asia Hasyim, menyebutkan bahwa dari total 30 kecamatan, sebagian besar telah terdeteksi kasus kusta, dengan Kecamatan Bacan menjadi wilayah dengan jumlah penderita terbanyak.
“Kasus kusta memang tersebar luas, namun Bacan menjadi kecamatan dengan angka tertinggi,” ujar Asia.
Ia menjelaskan, kusta masih ditemukan terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, mobilitas masyarakat yang aktif, serta tingkat kesadaran kesehatan yang belum merata. Meski demikian, sebagian besar penderita telah masuk dalam program pengobatan rutin.
Menurut Asia, penanganan kusta di Halsel dilakukan melalui penemuan kasus secara dini (early detection), pengobatan berkelanjutan, serta pemantauan rutin oleh petugas kesehatan, baik dua minggu sekali maupun satu bulan sekali sesuai kondisi pasien.
“Dengan pengobatan teratur, kusta bisa disembuhkan dan tidak menular. Saat ini, banyak pasien yang menunjukkan perkembangan positif,” jelasnya.
Dinas Kesehatan juga terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk menekan stigma terhadap penderita kusta. Asia menegaskan, stigma justru menjadi salah satu faktor yang menghambat penderita untuk memeriksakan diri lebih awal. “Kusta bukan kutukan. Ini penyakit yang bisa disembuhkan jika ditangani sejak dini,” tegasnya. (*)





